Oleh: Hendrawan | Juli 2, 2006

Everyone has to create their own sanctuary

Ketika pikiran sedang jenuh dan buntu, orang perlu tempat untuk refreshing menyegarkan kembali pikirannya dan melepas segala beban pikiran yang ada di kepala, entah itu sekedar untuk jalan-jalan, makan, minum, tidur, ngobrol, atau yang lainnya. Bagiku, tempat itu kuberi nama ’sanctuary’ (jadi kalo ada yang liat status YM-ku bertuliskan ‘entering my own sanctuary’, berarti aku sedang mencoba melarikan diri dari segala kepenatan dunia ini :D ), dan selama ini sanctuary utamaku adalah beskem 2003 a.k.a rumah tyo yang terletak di jalan Sutorejo Selatan 2/xx.

Sayangnya, sudah dua minggu ini beskem berubah status menjadi ‘tertutup untuk umum’. Alasannya sederhana, karena orang tua sang pemilik beskem datang. Semenjak itu aku berkelana dari satu tempat ke tempat lain mencari sanctuary baru. Salah satu yang terdekat adalah ruang himpunan (terlebih karena sekarang ada karpet baru yang membuat ruang himpunan lebih nyaman, tapi sebenarnya membuat ruang himpunan menjadi sanctuary itu beresiko, karena aku yang sudah bukan siapa-siapa di himpunan ini bisa saja kemudian menimbulkan kesan menjadi seperti ‘you-know-who’). Kemudian juga ada beberapa kos/kontrakan teman yang aku jelajahi (abbas, fajar, ali, dll). Bahkan seminggu terakhir ini tiap pagi aku pulang ke rumah di perak, meski hanya sekedar untuk mandi dan makan pagi.

Tapi semua itu gak bisa menggantikan fungsi sebuah sanctuary. Pertama, faktor orang-orang yang ada. Di beskem, semuanya adalah orang-orang terdekatku di kampus ini. Kedua, faktor kenyamanan. Di beskem, ruangannya luas dan fasilitasnya lengkap mulai dari A sampai Z. Ketiga, faktor ketersediaan waktu. Beskem terbuka 24 jam (kecuali sekarang :D ) dan tidak ada larangan melakukan sesuatu pada jam tertentu.

Dampaknya sangat besar, pikiran jadi sering tidak tenang dan gampang gelisah, karena ada semacam persepsi bahwa sekarang sudah tidak ada lagi ‘place where I belong to’. Akibatnya, pekerjaan sering tertunda karena sering gak mood, tugas terbengkalai, dan hidup jadi tidak produktif karena waktu terbuang sia-sia mencoba mengatasi kegelisahan pikiran. Dan sampai saat ini aku belum menemukan cara untuk mengatasi semua hal itu.

Memang, sesuatu itu jadi kelihatan jauh lebih berharga kalau sudah tidak ada.

LabProg, 2 Juli 2006 2 AM
~gimana ya membuat dia supaya mikirin aku juga~


Tanggapan

  1. Sanctuary yang paling enak nurutku di Masjid Mas….
    Enak karena selain tempatnya sunyi, tenang, biasanya udaranya sejuk…lagian bisa dengerin orang baca Quran….


Beri tanggapan

Your response:

Kategori