Beberapa saat lalu aku sempat berjalan-jalan di toko emas di daerah blauran, Surabaya guna memesan cincin buat lamaran. Waktu itu kan lagi liat-liat perhiasan gitu, terus tanya ke penjaga tokonya. Gini kurang lebih percakapannya:
Aku: Mas, emas putihnya ini aja ya?
Penjual (P): Iya, itu aja.
Aku: Harganya segram berapa ya?
P: Emas putih satu gram 195.000, kalo emas kuning 165.000.
Dari sini aku tau kalo mesan perhiasan itu, selain biaya gram yang dihitung dari berat
perhiasan tersebut, ada juga tambahan biaya yang disebut biaya pesan. Nilainya
tergantung modelnya. Sepertinya si biaya desain. Semakin bagus desainnya biaya
pesannya semakin mahal.
P: Yang emas kuning juga banyak kok koleksinya, ndak kalah bagus sama yang putih.
Aku: Tapi carinya emas putih ni mas.
P: Ooo, ndak papa, dipilih aja. Emas kuning bisa diputihkan kok.
Aku: Lo. Kok gitu, emas putih palsu dong.
P: Lo, bukan palsu, emang gitu. Emas putih itu ya emas kuning yang diputihkan. Kuning itu juga bukan warna aslinya emas kok.
Aku: Biaya mutihinnya berapa?
P: Gratis.
Aku: Loh, gratis? Terus kalo pas sudah jadi putih ternyata ndak suka, bisa dikuningin lagi ndak?
P: Bisa.
Aku: O ya? Biayanya?
P: Gratis.
Lah, pertanyaan besar. Jadi kenapa harganya berbeda???
Dudulnya, kenapa pas itu aku ndak nanya langsung
Update:
Ada yang lupa ditulis. Harga emas yang update dapat dilihat disini. Di toko, emas yang dijual biasanya mempunyai kadar 70% dan 75% (mungkin maksudnya itu dari sekian gram totalnya, 70%/75% nya adalah emas, sisanya campuran). Kata penjualnya, emas 24 karat terlalu lembek, jadi supaya lebih mudah dibentuk dan awet, dicampur bahan lain (tapi aku ndak nanya bahan campurannya itu apa).
Ditulis dalam My Life