Dua bulan lebih sudah saya merasakan panasnya udara Jakarta. Berhubung dalam waktu dekat saya berencana pindah ke Bintaro, mungkin akan saya ceritakan sedikit tentang pengalaman orang katro dari pedalaman Surabaya ketika menapakkan kaki di tanah ibukota.
Kesan pertama, like most people does, panas, poluted, and macet (tapi nggak pake bechek dan gak ada ojhek.
== sarana transportasi di jakarta ==
Orang katro macam saya pasti bingung kalo mau naik transportasi umum di Jakarta (secara, di Surabaya cuman ada angkot :P). Sependek pengetahuan saya, ada cukup beragam sarana transportasi masal di Jakarta, beberapa yang saya tahu adalah (diurutkan berdasarkan kapasitas masing2 kendaraan):
- KRL: Stands for Kereta Listrik. Seperti komuter di Surabaya kayaknya. Punya trayek2 dalam kota yang bisa dinaiki dua arah. Saya sendiri cuma pernah coba naik KRL ke bogor. Ada 3 strata sosial di KRL. Yaitu KRL Ekonomi, dengan kepadatan sekitar 12 orang per meter persegi (katanya salah satu blog yang saya lupa alamatnya), berangkat setiap 15 menit sekali menurut jadwal, tapi pada kenyataannya ndak selalu tepat waktu. Panas dan harus hati2 terhadap copet. Tarifnya beragam, tergantung stasiun naik dan stasiun turun. Tarif yang paling murah 1000, jaraknya sekitar 2 stasiun. Secara overall: Not recommended. Strata berikutnya adalah KRL Ekonomi AC (Semi Express). Lebih sedikit elegan, sedikit lebih mahal, lebih bersih, serta agak sedikit lebih lowong dibandingkan yang ekonomi. Pintunya otomatis (kalo yang ekonomi pintunya selalu terbuka :P), dan ber AC + kipas angin. Tarifnya jauh-dekat 6000. Strata paling tinggi adalah kereta express. Kalo yang ini belum pernah naik, jadi belum bisa cerita apa2. Tapi kalau gak salah lihat, tarifnya jauh-dekat 12000.
-Busway: ini sarana transportasi yang lagi ngetren. Kalo naik hari kerja dan jam efektif, bisa dipastikan berdiri, kecuali kalo naiknya dari terminal yang ujung. Menjangkau jalan-jalan utama di Jakarta. Tarifnya murah (saat ini si 3500 tarif normal, 2000 tarif hemat) dan bisa pindah koridor (bahasa busway buat ‘trayek’) gratis. Busnya bersih dan nyaman, serta ber-AC. Berdiripun ndak masalah rasanya. Kecepatannya lumayan stabil karena punya jalur sendiri di jalan. Jumlah armadanya pun relatif banyak, jadi gak perlu terlalu lama nunggu (kecuali untuk jam2 khusus seperti pulang kantor).
- Bus: Sama lah kualitasnya seperti di Surabaya, kalo rame ya berdiri, kalo sepi ya dapet duduk, kadang ada orang ngamen ato mbagi2kan dagangannya. Tarifnya kalo ndak salah 2000. Bus ini ndak mesti damri. Ada perusahaan2 lain yang juga mengoperasikan bus dalam kota. Menjangkau trayek jalan gede dan agak jauh.
- Minibus: Ada beberapa perusahaan yang mengoperasikan mini bus. Yang aku tahu ada Kopaja, Kopami, sama Metro Mini. kapasitasnya kira-kira separuhnya bus biasa. Bentunknya juga lebih mungil. Tarifnya 2000 atau 2500 (untuk yang melewati tol). Juga menjangkau jalan yang lebih kecil dari jalur bus. Signal untuk turunnya agak kasar, biasanya orang menggedor2 atap minibus atopun pintu dan kaca bis untuk memberitahukan supir kalo mau turun.
- Angkot dan Mikrolet: Seperti lyn bemo kalo di Surabaya. Untuk angkutan-angkutan umum diatas (kecuali KRL ekonomi), jauh dekat tarifnya fix. Kalo yang ini, tarifnya maksimal 3500, tapi kalo dekat biasanya sopirnya toleransi. Minimal 1000 la tapi. Kebangeten rasanya kalo bayar angkot pake gopek. Kendaraannya tidak mempunyai sekat antara ruang penumpang dan ruang supir (jadi relatif lebih aman dibandingkan lyn di Surabaya). Gak pake bel, jadi kalo mau turun tinggal bilang ‘kiri pak’, atau menjentikkan jari di langit2 mobil. Kapasitasnya standard, bangku panjang 7 bangku pendek 5, meskipun susah mendapatkan kondisi ideal seperti itu
- Bemo: Kendaraan umum roda tiga ini sudah mulai hilang dan jarang ditemui, jadi saya ndak seberapa tau. Sepertinya bemo ini kendaraan umum yang bergerak dengan sistim trayek, seperti mikrolet dan angkot, tapi menjangkau jalan2 yang kecil.
- Taxi: Standard la ya. Semua kota besar pasti punya ini. Ada yang gak punya argo, ada yang punya argo tapi gak pake argo, dan ada yang pake argo. Tarifnya ada yang tarif biasa dan ada yang tarif lama (lebih murah). Kalo mau naik taksi, pilih yang ada stikernya tarif lama, atau yang merek blue bird (katanya orang2 si lebih terjamin).
- Bajaj (baca: bajai): Kendaraan yang sebenarnya vespa ini cukup nyaring bunyinya (meskipun ada versi BBG yang lebih halus suaranya, namun masih jarang berkeliaran). Kapasitasnya 2 orang. Ya.. seperti becak lah. Pembayaran dilakukan dengan penawaran terlebih dahulu di awal.
- Becak: Kapasitas normalnya 2 orang. Sangat jarang terlihat, tapi rasanya pernah lihat
- Ojek: Saya masih susah menengarai yang mana ojek dan yang mana pengendara motor biasa (ada yang punya tips untuk mengenali tukang ojek?). Kalau mau gampang, cari pangkalan ojek. Biasanya pangkalan ojek ada di tempat-tempat strategis yang melayani jalan yang tidak/susah terjangkau kendaraan umum.
- Ojek sepeda: Ndak susah kok cari duit di jakarta, cukup modal sepeda pancal, hehe. Biasanya ojek model ini mangkalnya di pasar-pasar tradisional.
== pengamen di jakarta ==
Suatu ketika saya menemui beberapa orang pengamen yang agak nodong. Mereka cuma masuk, lalu berkoar2 soal keadilan, dimana katanya indonesia kaya tapi kenapa banyak kemiskinan, dan semboyan2 patriotis lain. Tapi ujung2nya mereka minta duit buat makan, dan kalo gak dikasih, dengan agak memaksa mereka bakal terus minta sambil bilang ‘ayolah bos, buat makan, 1000 aja, bagi rejeki dong, dsb’.
Well, sementara itu dulu, sekarang lagi sok sibuk. Next time dilanjut ![]()
Ditulis dalam My Life