Setelah menjalani sendiri, salah satu yang membuat kehidupan di Jakarta berat adalah soal makan. Makanan disini mahal banget. Makanan level warteg aja normalnya menghabiskan +/- 10rb sekali makan (bandingkan dengan Surabaya yang hanya menghabiskan sekitar 5rb untuk makanan level tempe penyet :P). Anyway, ada yang menarik soal kebudayaan orang sini, mereka biasa minum teh tawar (atau biasa disebut ‘teh’ saja). Kalo kita bilang ‘teh’ disini, normalnya mereka (penjual makanan) akan membawakan teh tawar, kecuali kalo kita bilang teh manis. Selain itu, sependep pengamatan saya ketika makan di warteg, orang sering cuma minum air putih saja, gak tau kenapa. Mungkin karena faktor harga, atau orang-orang disini lebih aware terhadap keuntungan minum air putih ya
Saya sendiri menghabiskan sekitar sejuta sebulan cuma untuk urusan makan. Sehari makan tiga kali, dimana sekali makan sekitar 10rb (jadi 10rb X 3 kali sehari x 30 hari sebulan). Ditambah sesekali jajan. Bagaimana dengan anda? (Halo…. ada yang baca blog ini gak si :P)
Hal lainnya yang membuat hidup di Jakarta mahal adalah soal papan. Harga kos disini cukup mahal (dibandingkan Surabaya tentunya, oh my homeland… aku kangen harga-harga murah disana :P). Apalagi jika mempertimbangkan beli rumah di Jakarta, oh God. Expensive! Jakarta yang segitu padetnya sudah pasti susah untuk menemukan lahan kosong. Otomatis perumahan-perumahan biasanya berada di daerah pinggiran, dan normalnya perkantoran ada di tengah kota. Sebenarnya si gak papa, sayangnya Jakarta suka macet, parah lagi. Hal ini membuat rumah pribadi yang ada di tengah kota jadi mahal banget. Solusi alternatif adalah rumah susun yang terlihat di beberapa sudut kota ini, tapi saya belum punya informasi lebih lanjut soal ini.
Untungnya, tempat kerja saya berdekatan dengan STAN, dan di dekat STAN ada daerah pemukiman yang banyak ditempati mahasiswa, jadinya harga kos dan makan disana agak sedikit lebih murah dari harga normal, meskipun diimbangi dengan standard kebersihan yang lebih rendah ![]()
Ditulis dalam My Life