Oleh: Hendrawan | April 21, 2008

Makan untuk hidup, atau Hidup untuk makan?

Setelah menjalani sendiri, salah satu yang membuat kehidupan di Jakarta berat adalah soal makan. Makanan disini mahal banget. Makanan level warteg aja normalnya menghabiskan +/- 10rb sekali makan (bandingkan dengan Surabaya yang hanya menghabiskan sekitar 5rb untuk makanan level tempe penyet :P). Anyway, ada yang menarik soal kebudayaan orang sini, mereka biasa minum teh tawar (atau biasa disebut ‘teh’ saja). Kalo kita bilang ‘teh’ disini, normalnya mereka (penjual makanan) akan membawakan teh tawar, kecuali kalo kita bilang teh manis. Selain itu, sependep pengamatan saya ketika makan di warteg, orang sering cuma minum air putih saja, gak tau kenapa. Mungkin karena faktor harga, atau orang-orang disini lebih aware terhadap keuntungan minum air putih ya :)

Saya sendiri menghabiskan sekitar sejuta sebulan cuma untuk urusan makan. Sehari makan tiga kali, dimana sekali makan sekitar 10rb (jadi 10rb X 3 kali sehari x 30 hari sebulan). Ditambah sesekali jajan. Bagaimana dengan anda? (Halo…. ada yang baca blog ini gak si :P)

Hal lainnya yang membuat hidup di Jakarta mahal adalah soal papan. Harga kos disini cukup mahal (dibandingkan Surabaya tentunya, oh my homeland… aku kangen harga-harga murah disana :P). Apalagi jika mempertimbangkan beli rumah di Jakarta, oh God. Expensive! Jakarta yang segitu padetnya sudah pasti susah untuk menemukan lahan kosong. Otomatis perumahan-perumahan biasanya berada di daerah pinggiran, dan normalnya perkantoran ada di tengah kota. Sebenarnya si gak papa, sayangnya Jakarta suka macet, parah lagi. Hal ini membuat rumah pribadi yang ada di tengah kota jadi mahal banget. Solusi alternatif adalah rumah susun yang terlihat di beberapa sudut kota ini, tapi saya belum punya informasi lebih lanjut soal ini.

Untungnya, tempat kerja saya berdekatan dengan STAN, dan di dekat STAN ada daerah pemukiman yang banyak ditempati mahasiswa, jadinya harga kos dan makan disana agak sedikit lebih murah dari harga normal, meskipun diimbangi dengan standard kebersihan yang lebih rendah :)


Responses

  1. Wohohoho.

    Melihat jakarta dari sisi pak Hendra seru juga uey.

    Mantab. Mantab.

  2. Untungnya, tempat kerja saya berdekatan dengan STAN, dan di dekat STAN ada daerah pemukiman yang banyak ditempati mahasiswa

    Dan mahasiswi juga kan?
    Kekekeke………

    Bintaro ya?

  3. @leonardo:
    kalo pas lagi travelling ke leces, pacet, dkk, Surabaya jadi terasa kota besar. Eh, ternyata ada yang lebih besar lagi :p

    @dnial:
    itu yang lagi dicari infonya.
    Kenapa di Bintaro?

  4. Jakarta adalah kota terakhir bagi saya dalam list untuk t4 tinggal :P
    Ah, macetnya nggak tahan. Numpang lewat aja udah di suguhin macet :(

    Makan untuk hidup or hidup untuk makan?

    Makan untuk hidup dong….

  5. hidup untuk makan. Kalo gak percaya, coba aja nanti harga beras kalo mahal paling negara rusuh.

  6. Makan ga makan yang penting asal kumpul..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: