Oleh: Hendrawan | September 22, 2008

Mengembangkan sikap Low Profile

Bulan puasa merupakan bulan penuh rahmat, dimana umat muslim berlomba-lomba membersihkan dosa masing-masing dan mendapatkan ampunan dari Tuhan. Untuk melengkapi proses pembersihan dosa tersebut, kita juga saling meminta maaf terhadap kenalan dan kerabat kita, untuk menghapus dosa-dosa kita dari mereka. Tradisi minal minul ini kebetulan mempertemukanku dengan seorang kenalan lama (untuk menjaga objektivitas, sebut saja namanya ‘L’) yang dulu sempat aku kagumi.

Apa yang aku kagumi dari seorang L ini.. Post kali ini aku ingin menceritakan sedikit tentang dia.

Umumnya, ketika muncul seorang karyawan baru di tempat kerja kita, secara tak langsung ego kita sebagai seorang yang lebih senior (meskipun secara posisional mungkin sama dengan orang baru tersebut) muncul. Apalagi kalo orang baru tersebut fresh grad. Wes… langsung, jiwa senioritas ala ospek kampus langsung mencuat :P Ini aku amati pasti secara gak sadar muncul dalam jiwa orang kebanyakan. Mulai dari yang gak mau ngobrol kalo gak diajak ngobrol duluan, sok-sok-an ngobrol sendiri dengan para senior, memandang rendah skill-nya dia, meremehkan kemampuannya, sok tahu, sok lebih ahli, dan segala macem sikap-sikap superioritas lainnya (untungnya di tempat yang sekarang aku gak ngerasa digituin oleh temen-temen yang selevel denganku yang lebih dulu masuk. Oh teman-temanku, bahagianya aku dipertemukan dengan kalian :D )

Disinilah letak perbedaan si L. Dia low profile banget dan gak nganggap junior-juniornya berada di bawahnya dia (fyi, disini aku berposisi sebagai juniornya, meskipun gak dibawahnya dia). Dia yang ngajak kita-kita (para newbies) ngobrol duluan, gak jaim kalo nongkrong ma kita-kita, ketika ngobrol santai dengannya dia gak menunjukkan aura-aura ke-senioritas-an, dia ngajarin tanpa menggurui, dsb. (susah kalo dideskripsikan, intinya gak ada ego seorang senior lah). Tapi…. gak menunjukkan ego senior bukan berarti dia trus kita injek-injek. Tetep dia punya kharisma seorang senior.

Gimana caranya kok bisa gitu? Wah, ndak tau yah. Aku bukan dia. Yang jelas si kita ngerasain perasaan kayak gitu terhadap dia.

Nah… apa efeknya. Orang-orang pun kemudian dekat dengannya dan menganggapnya teman. Buat yang dah kerja, tau kan bedanya antara ‘rekan kerja’ dan ‘teman’.

Trus… Apa untungnya? Gini coy, (selain dari sisi sosial dimana kita pasti perlu teman disaat kita butuh), kita tu kerja hampir gak mungkin selamanya cuman di tempat yang sama. Pasti pindah-pindah de. Ketika perusahaan tempat kita bekerja dah gak butuh kita lagi, apa yang bakal mereka lakukan? Mereka pasti bakal mendepak kita dengan segala macam cara. Untuk survive kita butuh banyak link, bukan cuman sekedar link, tapi link dengan pagerank yang tinggi (halah :P ), apalagi rumornya, setelah melewati masa fresh grad, referensi berperan besar terhadap kepercayaan calon perusahaan terhadap kita.

Kita juga gak bakal tau nasib orang lain gimana. Ketika sekarang kita diatas mereka, gak ada yang jamin kita bakal diatas mereka selamanya. Siapa tahu mereka pindah ke tempat lain yang lebih sesuai dengan kapasitas mereka, dan disana mereka lebih berkembang, who knows? Kalau di waktu mereka susah kita cuman memandang remeh mereka, ah… kita telah kehilangan satu link berharga.

Selama ini mungkin cuma menghargai link dari orang yang saat ini sudah berposisi diatas kita, tapi gimana dengan mereka yang selevel atau bahkan dibawah kita?


Tanggapan

  1. Cerita panjang lebar jadi intinya apa nih? Naksir?
    *ngacir!!*

  2. Intinya di kalimat terakhir dodol :D


Beri tanggapan

Your response:

Kategori